EVMAP8SCUM98 – Berhubung kian hari kian banyak kawan-kawan yang bertanya kepada saya tentang: “Kamera, Lensa dan Peralatan lain apa yang wajib dibawa oleh seorang Fotografer Wedding (Wedding Photographer) ketika sedang motret sebuah pernikahan“, maka berikut ini akan saya akan berusaha mengulasnya di sini.

Kolase Album Foto Wedding for Zulida & Fahmi by Poetrafoto Photography Fotografer Professional Wedding Photographer Yogyakarta Indonesia

Kolase Album Foto Wedding for Zulida & Fahmi by Poetrafoto Photography

Berdasarkan pengalaman saya dan selama sharing dengan kawan yang sama-sama menggeluti hobby dan bisnis fotografi perkawinan (wedding photography), saya mencatat ada berbagai hal yang berkaitan dengan peralatan penting yang sering dilupakan oleh para fotografer wedding tersebut. Mereka entah karena lupa atau buru-buru sehingga kelabakan ketika sedang akan melakukan pemotretan.

1. Pertama adalah yang berkaitan dengan perlengkapan

Kawan-kawan fotografer wedding tak sedikit yang lupa membawa memory card cadangan, baterai cadangan, baterai flash blitz, kabel rol tambahan, tripod atau monopod, lensa utama dan lensa cadangan, baju atau pakaian yang sesuai dengan moment yang akan dipotret. Jika perlu dan kita sebagai seorang Professional Wedding Photographer, maka membawa kamera, lensa dan flash external cadangan adalah sebuah kewajiban.

Walaupun sepele, tapi hal ini sangat bahaya bagi para fotografer jika dilupakan. Untuk cadangan kamera, lensa, dan flash external beserta pendukungnya, diusahakan harus ada. Ya, kita memang tidak berharap terjadi sesuatu yang fatal, namun kejadian kamera mendadak eror, lensa tidak jalan, flash mati karena panas, dan lain sebagai, wajib kita antisipasi.

Foto Paes Ageng Wedding Adat Jawa Jogja dalam Pernikahan Devie & Ade by Poetrafoto Photography Fotografer Yogyakarta Indonesia

Foto Paes Ageng Wedding Adat Jawa Jogja dalam Pernikahan Devie & Ade by Poetrafoto Photography Fotografer Yogyakarta Indonesia

Untuk soal cadangan baterai, baik baterai kamera maupun flash, ini yang sering kejadian. Iya kalau di dekat tempat acara ada toko penjual baterai, kalau tidak? Bisa dibayangkan kan? Selain itu, waktunya juga terpakai dulu untuk beli-membeli itu.

Kabel rol tambahan, ini yang sering dilupakan oleh fotografer, karena ini dianggap tidak begitu penting dan bukan peralatan utama fotografi. Kesalahan ini dimulai dari anggapan bahwa di tempat acara sudah menyediakan ‘colokan’ untuk fotografer. Yang sering saya jumpai adalah, jika kita sebelumnya tidak sempat berkoordinasi dengan pihak panitia atau pengelola gedung, maka mereka tidak akan menyediakan itu bagi kita. Jadi, alangkah baiknya jika kita mempersiapkan diri dengan ini dari studio atau rumah kita.

Soal beragam jenis lensa, ini juga perlu perhatian yang ekstra. Ingat, setiap momen kadang membutuhkan lensa yang berbeda-beda. Memang ada lensa yang bisa memadai untuk segala kondisi, tapi terkadang hasilnya kurang sesempurna yang kita harapkan.

Soal pakaian. Yang ini sudah sangat banyak para fotografer profesional yang mengingatkan. Walaupun kita fotografer, seharusnya kita juga harus menganggap diri kita sebagai bagian yang tak terpisahkan dari acara tersebut. Jika kita di lapangan terbuka seperti ketika motret model, ya kita boleh seadanya sesuai style kita. Suka-suka kita lah kalau itu.

Nah, cara untuk menyiasati permasalah pertama ini adalah dengan kita selalu menyediakan seluruh kebutuhan kita dalam satu tas atau tempat khusus yang terpadu, tidak tersendiri untuk masing-masing peralatan. Sudah ada tas yang mencukupi untuk berbagai peralatan penting. Tas itu bisa memuat baterai cadangan, lensa, kamera, tripod, bahkan sebuah jaket yang kita desain netral yang bisa masuk dalam situasi acara apapun, formal maupun non formal.

2. Kedua adalah yang berkaitan dengan psikis dan kesehatan kita.

Foto Pernikahan Adat Minang (Minangkabau Padang Wedding Ceremony) by Poetrafoto Photography Yogyakarta Indonesia

Foto Pernikahan Adat Minang (Minangkabau Padang Wedding Ceremony) by Poetrafoto Photography Yogyakarta Indonesia

Ini kebiasaan buruk para fotografer yang sering dilupakan. Yaitu, besok pagi harus motret, malam hari sampai pagi asyik masyuk ngedit atau ngolah foto hingga lupa waktu. Saya yakin, jika kondisi kita tidak begitu fit, atau tidak sehat, maka pekerjaan kita tidak akan maksimal dan akan mempengaruhi hasilnya pula. Atur waktu sedemikian pula agar kita bisa maksimal dalam pekerjaan kita.

3. Ketiga, soal prepare sebelum acara.

Usahakan ketika kita menyetujui sebuah wedding bahwa kita yang menjadi fotografernya. Kita tahu persis tempatnya, rundown atau rincian prosesi acaranya, orang-orang penting yang akan hadir, momen apa saja yang perlu didokumentasikan, dan layout gedung.

Pernah terjadi pada diri saya, ketika motret acara penting, saya kebelet buang air kecil (kencing). Karena belum tahu tempat toiletnya, saya harus muter-muter cari toilet tersebut. Selepas kencing, sesampai di acara lagi, prosesi yang sangat penting sudah lewat. Waduh, nyesel seumur hidup rasanya. Dimarahin panitia pula! Apes!!!

Oh iya, jika acara akan dimulai jam 07.00 Wib, usahakan dengan sangat, kita harus hadir maksimal setengah jam sebelumnya. Tujuannya apa? Yaitu agar kita bisa mengecek dari awal seluruh kesiapan kita sebelum acara dimulai.

4. Keempat, siapkan plan A-Z untuk tiap kondisi.

Nah, untuk menjaga diri kita, sebagai seorang Fotografer Profesional harus selalu punya plan A hingga Z untuk tiap kondisi yang selalu muncul di lapangan. Jadi fotografer harus ‘cerdas’ menyiasati apapun yang terjadi, baik yang berkaitan dengan alat, kondisi lokasi, hingga psikologi klien, tim dan lain sebagainya.

Wajib dibaca juga: Peralatan Kamera & Lensa untuk Motret Wedding

 

Oke, tips selanjutnya menyusul ya. Semoga bermanfaat & salam hormat selalu!

ditulis oleh Mishbahul Munir
owner Poetrafoto Wedding Photographer Yogyakarta Indonesia
web: www.poetrafoto.com
fb: facebook.com/poetrafoto
twitter: @poetrafoto