Kita sering berdiskusi, debat kusir, hingga tonjok-tonjokan soal selera fotografi kita ini. Setiap fotografer memiliki pendapat masing-masing. Pendapat itu tak terasa kadang menjadi ‘semacam’ fanatisme aliran. Jadi seolah-olah, kalau tidak motret ini atau itu, itu tidak ada apa-apanya, bukan hobby ‘gue beudd’, fotografer ecek-ecek, bukan selera fotografer hebat. Kadang, caci maki, saling sindir pun tak terbantahkan.

Untuk sekedar refleksi, saya membuat semacam “diskusi imaginer” berikut ini: Continue reading →